Kejahatan WWF
Konspirasi WWF dan Laferage, Cevron , Exxon serta beberapa perusahaan pertambangan dan minyak skala dunia pelan-pelan terbongkar. Ternyata berbagai perusahaan besar tersebut menjadi penyumbang dan terlibat sebagai supporting program - program WWF. Tidak hanya itu, WWF sebagai NGO Internasional sering digunakan untuk melakukan lobby hingga black campaign dengan isu-isu lingkungan terhadap perusahaan-perusahaan yang menjadi competitor dari perusahaan yang menyumbang WWF.
Lobby maupun tekanan yang dilakukan WWF melalui isu – isu lingkungan terhadap competitor penyumbang dalam banyak kasus terlihat efektif untuk menurunkan saham, membatalkan investasi, kerjasama, pinjaman bank hingga penolakan pasar terhadap produk yang di hasilkan.
Bahkan dalam beberapa kasus dengan menggunakan pernyataan hasil penelitian WWF di Pengadilan perusahaan-perusahaan competitor bisa dikalahkan dan kepemilikan perusahaan atas areal pertambangan dan minyak beralih tangan.
Konspirasi dan sandiwara seperti itu tertuang jelas dalam tulisan yang dirilis oleh salah satu peneliti handal Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Siti Maemunah yag terangkum dalam dua edisi khusus bertajuk : WWF dan Para Penyelamat Iklim (1) dan (2).
Dalam tulisan tersebut dengan gamblang JATAM membeberkan sederet bukti konspirasi antara WWF dengan sebuah korporasi Internasional yag salah satu andilnya di dalam negeri adalah melalui PT Semen Andalas, atau Semen Padang lewat kepemilikan saham yang mencapai 99 persen.
Gambar disamping menunjukan foto laut Timor yang tercemar minyak yang diambil oleh WWF untuk menyudutkan PTTEP Australasia di ladang minyak Montara dimana hingga detik ini kasusnya menurut rilis WWF dan Yayasan Peduli Timor Barat belum juga tuntas meskipun pemerintah telah bernegosiasi lagsung dengan PTTEP Australasia dan pemerintah Australia sendiri.
Dalam komunitas perusahaan perminyakan Internasional, jauh hari sebelum kasus ini di angkat kepermukaan khalayak perminyakan sudah mengetahui bahwa salah satu anak perusahaan Exxon sangat berminat terhadap blok dengan cadangan minyak yang cukup besar itu.
Dalam data kami negoisasi ditingkat internasional WWF menempatkan perwakilannya secara langsung maupun tidak langsung, yang sempat menjadi isu dikalangan politisi Australia meskipun belum sampai terendus media.
BAGAIMANA NGO DI INDONESIA
Apakah NGO di Indonesia juga bagian dari konspirasi modal Internasinoal? Dalam situs resminya, Wahana Lingkungan hidup Indonesia (WALHI) menyatakan bahwa pada tahun 1980 – dalam pertemuan kelompok 10 (embrio WALHI) ternyata di danai oleh WWF. Berikut kutipanya
“….. Pertemuan tersebut disponsori oleh Yayasan Pembinaan Suaka Alam dan Margasatwa Indonesia/World Wirldlife Fund yang diketuai oleh Hamengkubuwono IX. Selain itu, juga muncul beberapa nama yang memberikan dukungan, seperti Purnomo (Menteri PU), Soedjarwo (Menteri Kehutanan), dan Emil Salim (Menteri LH). Mereka tidak hanya memberikan dukungan immaterial, namun juga memberikan bantuan dana. Dari dana bantingan antar-kawan tersebut, berhasil terkumpul sekitar sepuluh juta rupiah. Adalah Erna Witoelar dan Nasihin Hasan yang saat itu mengambil uang dari WWF yang diserahkan oleh Soedjarwo (Menhut sekaligus bendahara WWF)”
Hal tersebut menyiratkan betapa besar pengaruh organisasi ini di Indonesia. [LIHAT SEJARAH WALHI]
Selain WALHI, Secara Terbuka Green Peace Indonesia yang merupakan bagian dari kantor Regional / perwakilan dari Green Peace pusat yang bermarkas di Amsterdam Belanda telah menunjukan bahwa ia adalah bagian dari konspirasi Internasional melalui langkahnya membawa Duta Besar USA dan beberapa pejabat tinggi Amerika berikut Agen-agen CIA untuk melakukan survey langsung ke hutan-hutan di Indonesia.
NGO lainnya di Indonesia yang juga merupakan bagian dari Konspirasi Internasional adalah JATAM (Jaringan Advokasi Tambang). Keterkaitan JATAM dengan konspirasi Internasional mudah dilacak dari aliran uang donaturnya yang berasal dari Amerika, Eropa dan Australia.
Yang menarik dan lebih menegaskan posisi JATAM sebagai serigala berbulu domba yang pura-pura melakukan pendampingan terhadap korban – korban pertambangan ternyata justeru boneka perusahaan tambang untuk memukul perusahaan lain yang menjadi competitor donaturnya juga dapat dilacak dari perusahaan yang membuat dan memiliki Website Jatam, yaitu PT Indo Muro Kencana, perusahaan yang 100 % kepemilikan sahamnya di miliki oleh STRAIT sebuah perusahaan penambangan Emas dari Australia.
Bila ditelusuri lebih jauh kepemilikan saham di STRAIT sendiri ternyata dimiliki dari gabungan modal beberapa perusahaan pemilik Saham yang juga memiliki Saham di Freeport. [http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2011/11/25/kisruh-freeport-dan-momentum-renegosiasi-kontrak-karya/]
Berikut link yag menunjukan hubungan JATAM dengan Indo Muro Kencana : Indo Muro Kencana Pendiri JATAM
KONFLIK DONATUR MENJADI KONFLIK NGO
Secara kasat mata sepintas berbagai NGO yang ada di negeri ini sepertinya saling bahu membahu untuk membela kepentingan masyarakat lewat laporan-laporan dan investigasi mereka namun tidak bisa dipungkiri meski memiliki platform yag mirip terkadang sesama NGO tersebut juga harus berbenturan terkait dengan perbedaan kepentingan yang dimiliki oleh para donator mereka.
Hal tersebut terlihat dari serangan yang terbilang sadis dari JATAM terhadap WWF (tulisan Siti Maemunah tentang Kebobrokan WWF), maupun pertengkaran antara JATAM dengan Green Peace yang terungkap di media.
Padahal secara garis besar WWF , Green Peace, WALHI maupun JATAM sama-sama NGO yang berbasis penyelamatan Lingkungan dan mahluk hidup disekitarnya baik manusia, tumbuhan maupun hewan, bahkan mantan Kordinator Jatam Region Papua, Bustar Maitar saat ini menjabat sebagai Juru Kampanye Green Peace wilayah Asia Tenggara.
Berikut pernyataan koordinator JATAM tepat pada saat desakan agar Greenpeace diaudit menguat. Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Andrie S Wijaya, dalam siaran persnya menyatakan Greenpeace telah mencatut nama JATAM terkait laporan berjudul Coal Kills yang dikeluarkan NGO tersebut pada 3 November lalu. Nama Jatam tercantum dalam sampul bagian muka dan halaman kedua laporan tersebut. Okezone edisi 8 November 2010 [http://news.okezone.com/read/2010/11/08/337/391163/nama-dicatut-jatam-berencana-gugat-greenpeace]
Namun ironisnya Koordinator Nasional JATAM dalam salah satu kampanyenya justru terlihat memakai kaos bertuliskan Food Not Coal yang merupakan bagian dari kampanye serupa dengan yang Greenpeace lakukan. (lihat gambar dibawah - Andrie S Wijaya Koordinator Nasional JATAM)
Khusus untuk borok Green Peace anda mungkin dapat menyimak ulasan Himpuan Mahasiswa Islam (HMI) di Rakyat Merdeka Online edisi 26 Juli 2011. [http://www.rakyatmerdekaonline.com/news.php?id=34343]
Dari pemaparan diatas jelas terlihat bahwa ungkapan BINGO (Bisnis NGO) tersebut benar adanya dan sebenarnya secara kasat mata bisa dilihat dari pola dan gaya hidup mereka khususnya yang berada di kantor pusat. Yang kerap berkeliling dunia, mengambil sekolah di berbagai universitas terkenal di Eropa, hingga menyewa kantor yang berharga puluhan hingga ratusan juta rupiah pertahun di beberapa daerah elit di Jakarta dengan pendapatan dan gaji menyamai anggota Dewan.
Gaya hidup ini berbeda jauh dengan masyarakat yang mereka advokasi di desa-desa sekitar wilayah Tambang dan Perkebunan.
Tetapi ketika terjadi perbedaan kepentingan di donaturnya maka para NGO ini tidak segan-segan ikut dalam larut dalam konflik tersebut. Salig hantam dan saling ancam satu dengan yang lain tidak ubahnya seperti partai politik.
Ungkapan bahwa tidak ada permusuhan yang abadi dan tidak ada persahabatan yang abadi , yang ada adalah kepetingan yag abadi nampaknya menjadi benar.
JATAM Provokator BIMA Yang Dituduhkan SBY!
Konflik antara LBH Kesehatan dan JATAM dalam kasus Buyat di Sulawesi Utara dimana LBH Kesehatan menuduh JATAM telah memprovokasi warga Buyat untuk mencabut kuasa dari LBH kesehatan juga terjadi saat ini dalam bias yang belum mengemuka dalam kasus BIMA atara sesama NGO dan organisasi lainnya yang juga turut mengadvokasi warga.
JATAM dianggap mengambil keuntungan dengan mengampayekan kasus BIMA dalam laporan internasional dan memperkuat proposal mereka dalam meyakinkan funding yang teryata berasal dari salah satu perusahaan tambang emas besar di Australia yang menjadi kompetitor dari PT. Sumber Mineral Nusnatara yang juga berasal dari Australia.
JATAM yang sebelum peristiwa pelabuhan Sope terjadi sangat gencar dan Agresif melakukan, memfasilitasi dan terlibat pertemuan-pertemuan hingga lebih dari 30 kali pertemuan sejak 2010 kini terkesan mulai mengurangi partisipasinya.
Sikap itu menimbulkan kemarahan dan kekecewaan bagi masyarakat maupun aktivis NGO dan organisasi lainya. Terlebih lagi karena dari JATAM sediri tidak ada korban jiwa maupun luka dan tidak ada yang ditangkap. Dari situ Nampak bahwa JATAM dilindungi oleh kekuatan asing yang luar biasa.
Yang membuat dirinya tidak pernah tersentuh walaupun saat ini aktivis dari IMM , HMI, LMND dan berbagai Organisasi lain ada yang meninggal dunia, luka, ditangkap dan banyak yang menjadi buronan. Banyak aktivis yang sudah mulai bersuara sumbang dengan sindiran, “Rakyat yang luka, Mahasiswa yang di penjara, Jatam yang kaya”
Secara tidak langsung Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono yang belakangan ini kerap mengumandangkan perang terhadap sejumlah NGO yang didanai asing dan ingin megobok-obok Indonesia telah mensinyalir adanya provokator dibalik tragedi pelabuhan Sope.
Pernyataan Presiden tentu tidak bisa dianggap main-main karena pasti berdasarkan bukti-bukti intelijen yang kuat. BBC Indonesia edisi 22 Desember 2011 (http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/12/111222_sbymoratorium.shtml).
Yang kemudian diikuti pernyataanya terkait tragedi berdarah di Sope, Bima pada hari Minggu (25 Desember 2011) melalui Julian Aldrin Pasha (kompas cetak hal 1 edisi Senin 26 Desember 2011) soal pengusutan tuntas provokator tragedi Sope berdarah.
Dengan fakta yang ada tidak salah kiranya jika kita mendukung pernyataan Presiden mengenai hal tersebut. Sudah jelas bahwa NGO-NGO Asing adalah kelompok yang hanya memperalat dan memecah persatuan dan kesatuan NKRI dengan mengatasnamakan rakyat miskin yang tidak tahu apa-apa.
Lebih parah lagi teryata aksi NGO-NGO ini justru dipergunakan untuk melanggengkan kepetingan internasional yang ingin agar stabilitas di Indonesia terganggu agar kepentingan mereka terpenuhi oleh pemerintah.
Faktanya hingga saat ini belum ada perusahaan yang melakukan penggalian di wilayah sengketa di Lembu, Bima, Nusa Teggara Barat meskipun Surat Eksplorasi telah dikeluarkan oleh Bupati Bima untuk PT SMN.
Sudah waktunya kita belajar dari kasus BIMA dan mulai menolak intervensi asing yang mengobrak abrik bangsa, mengadu domba Rakyat dengan topeng advokasi seolah membela Rakyat tetapi justeru mengadu domba sesama Rakyat. Menciptakan permusuhan dan saling curiga antara sesama Rakyat Indonesia untuk kepentingan donatur-donatur NGO itu yang ternyata adalah perusak-perusak lingkungan nomor wahid di dunia.
Saat ini sudah waktunya kita mendukung langkah Presiden untuk mengusir NGO Asing dari Indonesia dengan cara yang sama seperti yang mereka lakukan yaitu dengan melakukan demonstrasi dan menduduki kantor mereka serta memasang spanduk-spanduk menolak kehadiran agen-agen asing itu di wilayah kita.
Rakyat Indonesia berharap agar bapak Presiden dan jajaran pemerintah, polisi, TNI segera bertindak tegas dengan menangkap provokator tragedi Bima dan menetapkan mereka agar organisasi mereka dijadikan sebagai organisasi terlarang !
Merdeka! Jaga Negeriku Dari Agen-Agen Asing!





Tidak ada komentar:
Posting Komentar